Aktivis di Tasikmalaya Desak Penanganan Geng Motor Lewat Aksi Nyata

  • Bagikan

 

MEDIAINDO.ID-| Aksi kekerasan yang terjadi di Cilembang Kota Tasikmalaya dan menyebabkan meninggalnya seorang remaja, terus menarik perhatian. Kasus ini jadi “rapor merah” bagi seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan.

Persoalan tersebut dinilai tidak bisa terus diselesaikan sebatas narasi, evaluasi, maupun saling lempar tanggung jawab. Aktivis Tasikmalaya, Jausan Kamil, menyebut fenomena genk motor bukan persoalan baru. Dari tahun ke tahun, kelompok tersebut terus muncul dan menjadi ancaman terhadap keamanan masyarakat.

Ia pun menyampaikan duka cita atas kejadian yang menyebabkan dua remaja menjadi korban keganasan genk motor. Menurut Jausan, peristiwa tersebut semestinya menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk melakukan introspeksi. Sebab, menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan bukan hanya menjadi tugas satu instansi.

“Masyarakat, RT/RW, kelurahan, kecamatan, kepolisian, hingga kelompok kepemudaan dan karang taruna memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif,” kata Jausan, Jumat (4/9/2926).

Ia menilai respons terhadap persoalan geng motor selama ini kerap berhenti pada evaluasi dan argumentasi. Semua pihak sibuk mencari siapa yang harus bertanggung jawab, sementara pertanyaan paling mendasar justru kerap luput. Di antaranya, apakah penertiban di lingkungan masing-masing sudah berjalan? Sejauh mana kondusivitas lingkungan dijaga? Dan apakah edukasi mengenai kenakalan remaja benar-benar dilakukan hingga tingkat masyarakat, termasuk RT dan RW?

Jausan menegaskan, pencegahan kenakalan remaja harus dilakukan sejak dari akar persoalan. Menurutnya, krisis identitas menjadi salah satu persoalan yang dapat mendorong remaja terjerumus dalam pergaulan negatif. Kondisi tersebut tidak berdiri sendiri karena dipengaruhi pergaulan, pendidikan, maupun lingkungan keluarga.

“Sudahkah kita memberikan bimbingan, setidaknya terkait lingkungan dan pergaulan mereka?” ujarnya.

Ia menyindir keras jika seluruh organisasi dan lembaga hanya mampu menghasilkan pernyataan tanpa dibarengi langkah nyata.

Baca juga :   Polsek Karangnunggal Libatkan Unsur TNI, Sapol PP, LSM dan Ormas Tertibkan Uporia Kemenangan Persib dan Knalpot Brong 

“Jika seluruh organisasi dan lembaga hanya mampu melontarkan narasi tanpa menghadirkan gerakan nyata, maka semua itu tidak lebih dari sekadar omon-omon,” tegasnya.

Menurut Jausan, pencegahan genk motor membutuhkan kolaborasi vertikal sekaligus pendekatan pentahelix. Seluruh elemen, kata dia, harus terlibat dalam satu gerakan bersama dan tidak bekerja secara parsial.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan, lanjutnya, yakni pendataan anak-anak dan remaja di lingkungan RT/RW. Data tersebut dapat menjadi pijakan awal untuk mendeteksi potensi konflik sekaligus membangun basis informasi mengenai kondisi sosial anak dan remaja. Kelompok kepemudaan juga dinilai perlu mengambil peran lebih besar melalui pembinaan intensif.

Termasuk menyediakan ruang bagi anak muda untuk mengembangkan minat dan bakat sehingga memiliki aktivitas produktif. Sementara aparat keamanan bersama unsur perlindungan masyarakat perlu meningkatkan patroli dan pengawasan, terutama pada jam-jam yang rawan terjadi gangguan ketertiban umum.

Jausan meyakini perubahan dapat terjadi apabila seluruh elemen memiliki kemauan untuk bergerak dan mengambil bagian. Daripada terus menyalahkan satu instansi, ia meminta seluruh pihak saling menyambut dan berbagi peran dalam menghadapi persoalan genk motor di Tasikmalaya.

“Tasikmalaya tidak membutuhkan lebih banyak narasi tentang genk motor. Tasikmalaya membutuhkan gerakan bersama,” pungkasnya.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat bergotong royong mewujudkan Tasikmalaya yang lebih ramah, aman, dan nyaman bagi masyarakatnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *