MEDIAINDO.ID –| Pembangunan Sekolah Rakyat (SR) permanen di Desa Tobongjaya, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, direncanakan memasuki tahap III pada Oktober–Desember 2026.
Fasilitas pendidikan yang diproyeksikan menampung sekitar 2.600 siswa jenjang SD, SMP, hingga SMA itu disiapkan untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Proyek yang direncanakan berdiri di atas lahan seluas delapan hektare tersebut diperkirakan menelan anggaran Rp 250 miliar. Saat ini, pembangunan masih menunggu proses lelang sebelum pekerjaan fisik dapat dilaksanakan.
Kepala Bidang Linjamsos pada Dinsos PPKBP3A Kabupaten Tasikmalaya, Hj. Elis Gusmilah Ahadiyat, S.Sos., mengatakan, Sekolah Rakyat permanen tersebut dirancang menjadi fasilitas pendidikan berskala besar yang dapat melayani anak-anak dari kelompok masyarakat paling rentan secara ekonomi.
“Sekolah Rakyat permanen tersebut dirancang untuk menampung sekitar 2.600 siswa dari jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA),” ujarnya saat di temui di tempat kerjanya, Jumat (9/10/2026).
Menurut Elis, sasaran utama program ini adalah anak-anak dari keluarga yang masuk kelompok desil 1 dan desil 2, serta anak tidak sekolah (ATS). Kelompok tersebut menjadi prioritas karena menghadapi keterbatasan ekonomi yang berpotensi menghambat akses terhadap pendidikan.
Pembangunan Sekolah Rakyat di Cipatujah diharapkan tidak sekadar menambah fasilitas pendidikan, tetapi juga membuka kesempatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk memperoleh layanan pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah atas.
Dari sisi infrastruktur, kompleks sekolah akan dibangun di atas lahan seluas delapan hektare. Bangunan utama direncanakan memiliki empat lantai dan dilengkapi sejumlah fasilitas penunjang, termasuk bangunan ibadah serta laboratorium untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan pengembangan keterampilan siswa.
“Sekolah Rakyat permanen dirancang menjadi kompleks pendidikan terpadu yang dapat mendukung proses belajar dalam lingkungan yang lebih memadai,” katanya.
Meski demikian, realisasi pembangunan masih bergantung pada proses lelang dan tahapan pelaksanaan proyek. Dengan demikian, jadwal pembangunan pada Oktober hingga Desember 2026 masih harus menunggu kepastian pelaksanaan di lapangan.
Elis menjelaskan, keberadaan Sekolah Rakyat diharapkan membantu mengurangi hambatan ekonomi yang selama ini membuat sebagian anak kesulitan mengakses pendidikan formal. Dengan kapasitas sekitar 2.600 siswa, fasilitas tersebut berpotensi menjangkau lebih banyak anak yang membutuhkan layanan pendidikan.
Namun, besarnya kapasitas sekolah perlu diimbangi dengan pendataan calon siswa yang tepat agar penerima manfaat sesuai dengan kriteria program. Anak-anak dari keluarga kelompok desil 1 dan desil 2 serta mereka yang belum mengakses pendidikan formal perlu menjadi perhatian dalam proses penentuan sasaran.
Selain penyelesaian pembangunan fisik, kesiapan operasional juga menjadi faktor penting. Ketersediaan tenaga pendidik, tenaga kependidikan, fasilitas pembelajaran, dan mekanisme penerimaan siswa perlu dipersiapkan agar sekolah dapat berfungsi optimal setelah pembangunan selesai.
Karena itu, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh rampungnya gedung, tetapi juga oleh kemampuan sekolah memberikan layanan pendidikan yang tepat sasaran dan berkelanjutan.
“Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan memperkuat akses pendidikan bagi masyarakat di Kabupaten Tasikmalaya dan kawasan sekitarnya,” pungkasnya.












