MEDIAINDO.ID-|Musim kemarau panjang menyebabkan kasus diare akut mengalami peningkatan cukup signifikan terjadi sejak bulan Januari hingga September tercatat 16.203 pasien. Peningkatan kasus diare tersebut, dipicu dari kondisi air, makanan, sanitasi, debu, polusi udara serta masyarakat abai melakukan kebersihan lingkungan rumah.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk, Kabupaten Tasikmalaya, Otong Kusmana mengatakan, krisis air bersih yang terjadi di wilayahnya semakin meluas menyebabkan berbagai penyakit muncul menyerang berbagai usia. Namun, kasus diare akut disebabkan dari air lantaran adanya penyusutan, makanan dan sanitasi buruk.
“Musim kemarau panjang menyebabkan kasus diare akut adanya tren peningkatan terjadi pada minggu ke 36 tercatat 421 pasien, M 37 tercatat 435 pasien, M 38 tercatat 438 pasien dan M 39 tercatat 463 pasien. Akan tetapi, diare akut yang paling banyak ditemukan di PKM puskesmas dan rumah sakit serta layanan kesehatan selalu penuh,” ujar Otong Kusmana, Minggu (18/10/2026).
Menurut Otong, penyakit diare akut selama disebabkan dari kondisi air, makanan dan sanitasi buruk hingga para pasien biasanya mengalami gejala buang air besar selama 3 hari ditandai perubahan konsitensi tinja menjadi cair yang disebabkan gangguan pencernaan. Namun, para pasien harus mendapat perawatan lantaran kondisinya dapat menyebabkan dehidrasi meski dari mereka sebagai sembuh.
“Kasus diare akut paling banyak ditemukan sejak bulan Januari-September di PKM di Puskesmas Mangunreja tercatat 1.192 pasien, Rajapolah 890 pasien, Salawu 860 pasien, Cisaruni 817 pasien, Sodonghilir 616 pasien, Puspahiang 604 pasien, Manonjaya 590 pasien. Peningkatan kasus tersebut, ada kemungkinan klaster terjadi di rumah lantaran penderita bisa menular,” katanya.
Menurutnya, diare akut yang terjadi dapat menular melalui kontak langsung dengan menyentuh tangan penderita atau benda dan permukaan terkontaminasi kuman, lalu tanpa sadar memegang makanan dengan memasukkan tangan ke dalam mulut. Akan tetapi, penularan lainnya mengonsumsi makanan, minuman sudah terkontaminasi bakteri, memakai handuk, alat makan dan menggunakan toilet bersama penderita.
“Kami mengimbau agar warga melakukan upaya dengan mecegah penularan melalui cuci tangan pakai sabun dan air mengalir secara rutin sebelum makan, setelah dari toilet, pisahkan perlengkapan handuk, alat makan, gelas, ketika ada anggota keluarga mengalami diare, konsumsi air harus benar mendidih dan makanan harus matang,” pungkasnya












