MEDIAINDO.ID-|Ketua MUI Tasikmalaya Geram Remaja Penjual Jasuke Tewas Dianiaya Geng Motor
(MI/Kristiadi)
MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, menyatakan kegeraman mendalam atas aksi kekerasan geng motor yang kembali memakan korban jiwa. Seorang remaja penjual jasuke dilaporkan tewas setelah menjadi korban penganiayaan kelompok tersebut, insiden yang dinilai telah menempatkan kondisi keamanan daerah pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan.
Ketua MUI Kota Tasikmalaya, KH Aminudin Bustomi, menyebut situasi keamanan saat ini sudah masuk pada stadium level 5 atau ekstra mengkhawatirkan. Ia menyoroti aksi unjuk rasa yang dilakukan puluhan mahasiswa dan pelajar dari Aliansi Cipayung Plus sejak kemarin sebagai bentuk akumulasi kemarahan publik terhadap kekerasan geng motor yang terus berulang.
“Masyarakat harus bersatu kembali perang melawan geng motor, karena kalau hanya sebatas mengandalkan aparat keamanan tidak mungkin. Kemarin sudah ada gerakan bersama yang mengecam aksi mereka,” ujar Aminudin Bustomi, Rabu (9/9/2026).
Dorong Pengaktifan Pos Kamling dan Peran Orangtua
Aminudin mendorong langkah konkret berupa pengaktifan kembali pos keamanan lingkungan (poskamling) di setiap wilayah. Menurutnya, poskamling efektif menjadi mata dan telinga warga dalam mencegah gangguan keamanan, terutama pada malam hari.
Selain itu, ia menekankan bahwa peran orangtua sangat krusial dalam mengawasi pergaulan anak, mengingat rata-rata pelaku masih berusia sekolah (SLTP dan SMA). “Jangan biarkan anak-anak bergaul bebas, keluyuran hingga tengah malam. Kita harus satukan kekuatan. Jika bergerak bersama, akan ketahuan siapa yang memasok miras dan senjata di balik gerombolan geng motor ini,” tegasnya.
Ia juga mempertanyakan kinerja aparat penegak hukum karena masalah ini seolah tidak kunjung tuntas. MUI Tasikmalaya menyatakan kesiapannya untuk bersinergi dengan pemerintah, aparat, dan seluruh komponen masyarakat guna melawan aksi kekerasan tersebut. Para mubaligh, ustaz, dan penceramah juga diminta untuk aktif menyampaikan pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Bukan Main Hakim Sendiri
Aminudin mengklarifikasi bahwa seruan perang yang dimaksud bukanlah tindakan main hakim sendiri, melainkan bentuk tanggung jawab kolektif untuk menjaga marwah Kota Tasikmalaya sebagai Kota Santri. Ia menilai pendekatan hukum saja tidak cukup untuk menyelesaikan fenomena geng motor yang berulang.
“Diperlukan pembinaan moral, pendidikan agama, dan kegiatan positif bagi remaja agar tidak ada lagi korban jiwa. Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan hukum,” paparnya.
Sebelumnya, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tasikmalaya Kota menangkap empat anggota geng motor yang masih di bawah umur. Mereka diduga kuat sebagai pelaku penganiayaan terhadap remaja berinisial IIM, 16, warga Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya. Korban yang sehari-hari berjualan jasuke tersebut meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Hermina.












