MEDIAINDO.ID-| Persoalan geng motor di kalangan anak muda dinilai tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan penindakan.
Ruang pembinaan, pendampingan keluarga hingga kegiatan positif dinilai perlu diperkuat agar generasi muda tidak mencari tempat pelampiasan di jalanan.
Ketua Umum Forum Silaturahmi Selasar Masjid Agung (FOSSMA), Dadang Abdul Fatah, mengatakan pencegahan geng motor harus dilakukan melalui pendekatan yang menyentuh akar persoalan.
Menurutnya, anak muda yang terindikasi terlibat geng motor jangan buru-buru dicap sebagai pelaku kejahatan.
Mereka perlu didatangi, dirangkul dan diajak berdialog untuk mengetahui persoalan yang melatarbelakangi perilakunya.
“Pendekatan harus dari hati ke hati. Kita identifikasi masalah keluarga, pergaulan dan lingkungan, kemudian mengajak mereka kembali kepada kegiatan positif,” ujar Dadang, Minggu (6/9/2026).
Ia menilai keterlibatan tokoh pemuda yang dihormati di lingkungan mereka juga penting.
Dengan demikian, pendekatan kepada kelompok berisiko tidak berhenti pada nasihat normatif yang terkadang hanya terdengar bagus di atas kertas.
FOSSMA, kata Dadang, mendorong masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang pembinaan dan perubahan bagi generasi muda.
Program tersebut dapat diwujudkan melalui kajian kepemudaan yang tidak menggurui, mentoring atau tarbiyah remaja, olahraga, seni Islami, hingga pembinaan akhlak dan tanggung jawab.
Salah satu gagasan yang ditawarkan yakni program Satu Pemuda, Satu Pembina.
“Masjid dapat menjadi tempat pembinaan dan perubahan. Anak muda perlu didampingi, bukan hanya dinasihati,” tegasnya.
Selain pembinaan keagamaan, FOSSMA juga mendorong adanya ruang bagi anak muda untuk menyalurkan energi dan kreativitas.
Kegiatan seperti kompetisi futsal, mini soccer, otomotif, musik, seni, e-sport, pelatihan kerja, kewirausahaan hingga bakti sosial dinilai bisa menjadi alternatif kegiatan yang lebih produktif.
Khusus bagi anak muda yang memiliki ketertarikan terhadap sepeda motor, FOSSMA bahkan membuka gagasan pembentukan Komunitas Motor Berakhlak.
Komunitas itu dapat diarahkan pada kegiatan touring tertib, servis motor, safety riding dan bakti sosial.
Dengan begitu, kecintaan terhadap otomotif tidak harus berujung pada kebut-kebutan atau aktivitas yang meresahkan masyarakat.
“Anak muda membutuhkan ruang untuk berekspresi. Jangan sampai jalanan menjadi satu-satunya tempat mereka mencari eksistensi,” tutur Dadang.
Dadang menegaskan, persoalan geng motor juga tidak dapat dibebankan hanya kepada aparat keamanan. Keluarga memiliki peran penting dalam mengetahui pergaulan dan aktivitas anak.
Karena itu, FOSSMA menggagas Forum Orang Tua Peduli Remaja. Forum tersebut diharapkan membantu orang tua membangun komunikasi dengan anak, mengetahui lingkungan pergaulan, mengawasi aktivitas malam serta berkoordinasi apabila muncul tanda-tanda keterlibatan anak dalam kelompok geng motor.
Sebab, menurut Dadang, menyelesaikan persoalan anak di jalan tanpa membenahi komunikasi di rumah ibarat memadamkan asap sementara sumber apinya dibiarkan menyala.
Di sisi lain, FOSSMA juga menegaskan tidak ingin mengambil alih tugas kepolisian maupun pemerintah.
FOSSMA memosisikan diri sebagai jembatan antara masyarakat dengan aparat.
Kolaborasi dinilai perlu dibangun bersama kepolisian, TNI, Pemerintah Kota, sekolah, RT/RW, tokoh agama, tokoh pemuda dan orang tua.
Untuk anak yang telah melakukan tindak pidana, Dadang menegaskan penanganannya tetap harus melalui proses hukum yang berlaku dengan memperhatikan ketentuan khusus terhadap anak.
Salah satu gagasan utama FOSSMA adalah program Satu Anak Satu Masa Depan.
Konsep tersebut meliputi tahapan identifikasi, pendekatan, mendengarkan, pembinaan, pemberdayaan hingga pendampingan.
Dadang mengatakan, pola pencegahan tidak boleh berhenti pada larangan. Anak muda harus diberikan pilihan konkret mengenai masa depan mereka.
“Jangan hanya mengatakan ‘jangan jadi geng motor’. Tetapi berikan alternatif: ‘Kalau tidak geng motor, kamu mau menjadi apa?’” tambahnya.
Alternatif tersebut, lanjut dia, dapat diarahkan melalui pendidikan, keterampilan, pekerjaan, olahraga, agama maupun komunitas positif.
Sebagai langkah konkret, FOSSMA juga menggagas Posko Solusi Pemuda FOSSMA.
Posko itu nantinya dapat menjadi tempat pengaduan dan pendampingan bagi masyarakat maupun anak muda.
Fungsinya antara lain menerima laporan masyarakat, mendata persoalan pemuda, melakukan pendekatan terhadap kelompok berisiko, menghubungkan anak dengan sekolah dan orang tua, memberikan pendampingan serta mengevaluasi perkembangan mereka.
Menurut Dadang, penanganan geng motor membutuhkan kerja bersama dan kesinambungan.
Sebab, ketika anak muda hanya dihadapkan pada larangan tanpa diberi ruang tumbuh, jalanan bisa saja kembali menjadi “ruang kelas” yang mengajarkan hal-hal yang keliru.
“Selamatkan generasi muda, cegah geng motor dengan silaturahmi, pembinaan dan solusi nyata,” tegasnya.












